• twitter
  • facebook
  • youtube
enid
Paten

Pengertian PATEN

Paten adalah hak ekslusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor, (Inventor yang dimaksud adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang menemukan ide/inovasi) atas hasil investasinya dibidang teknologi, artinya pendaftaran Paten adalah pendaftaran dibidang teknologi.

Apa yang dimaksud dengan invensi?

Invensi adalah ide inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik dibidang teknologi, dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses.

Apakah yang dimaksud inventor dan pemegang Paten?

Inventor adalah seseorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan kedalam kegiatan yang menghasilkan invensi.

Pemegang Paten adalah inventor sebagai pemilik Paten atau pihak yang menerima hak tersebut dari pemilik Paten atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak tersebut, yang terdaftar dalam daftar umum Paten.

Apakah yang dimaksud Hak Prioritas?

Hak prioritas adalah hak pemohon untuk mengajukan permohonan yang berasal dari Negara dalam Paris Convention for Protection of Industrial Property atau Agreement Establishing The World Trade Organization untuk memperoleh pengakuan bahwa tanggal penerimaan di negara tujuan yang juga anggota salah satu dari kedua perjanjian itu selama pengajuan tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang ditentukan berdasarkan Paris Convention tersebut.

Pengertian Konsultan Kekayaan Intelektual

Sebagaimana peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 84 Tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2005 :

Konsultan Hak Kekayaan Intelektual adalah orang yang memiliki keahlian di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan secara khusus memberikan jasa di bidang pengajuan dan pengurusan permohonan di bidang Hak Kekayaan Intelektual yang dikelola oleh Direktorat Jenderal dan terdaftar sebagai Konsultan Hak Kekayaan Intelektual di Direktorat Jenderal dan Konsultan kekayaan intelektual kinerjanya berhubungan langsung ditengah-tengah masyarakat untuk melaksanakan ketentuan Pasal 25 ayat (4) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang paten, Pasal 15 Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri, Pasal 13 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Pasal 7 ayat (9) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek,  Undang-undang Nomor 28 Tahun 2015 Tentang Hak Cipta dan Undang-undang dibidang hak kekayaan intelektual lain.

 

Kewajiban pemegang PATEN

  1. Pemegang paten wajib membayar biaya pemeliharaan yang disebut biaya tahunan.
  2. Pemegang paten wajib melaksanakan patennya diwilayah Negara Republik Indonesia, kecuali apabila pelaksanaan paten tersebut secara ekonomi hanya layak bila dibuat dengan skala regional dan ada pengajuan permohonan tertulis dari pemegang paten dengan disertai alasan dan bukti-bukti yang diberikan oleh instansi yang berwenang dan disetujui oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Hak dan keuntungan yang dimiliki pemegang PATEN

  1. Pemegang Paten memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan Paten yang dimilikinya, dan melarang orang lain tanpa persetujuannya.
    • Dalam hal Paten produk : membuat, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan memakai untuk dijual atau menyewakan untuk disewakan produk yang diberi Paten.
    • Dalam hal paten proses :  menggunakan Paten produksi yang diberi Paten untuk membuat barang yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana  yang dimaksud huruf a.
  2. Pemegang Paten berhak memberikan lisensi kepada orang lain berdasarkan persetujuan lisensi.

  3. Pemegang Paten berhak menggugat ganti rugi melalui pengadilan setempat, kepada siapapun, dan dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dalam butir 1 diatas.

  4. Pemegang Paten berhak menuntut orang dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang Paten dengan salah satu tindakan ssbagaimana yang dimaksud dalam butir satu diatas.

 

Ruang Lingkup Invensi, dapat memperoleh perlindungan dalam bentuk paten.

No. Keterangan PATEN Paten Sederhana
1. Jumlah klaim 1 invensi atau beberapa invensi yang merupakan satu kesatuan invensi 1 invensi
2. Masa perlindungan 20 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan paten 10 tahun terhitunng sejak tanggal penerimaan paten
3. Pengumuman perhomohan 18 bulan setelah tanggal penerimaan 3 bulan setelah tanggal penerimaan
4. Jangka waktu mengajukan keberatan 6 bulan terhitung sejak diumumkan 3 bulan terhitung sejak diumumkan
5. Yang diperiksa dalam pemeriksaan substantif Kebaruan (novelty), langkah inventif, dan dapat diterapkan dalam indsutri Kebaruan (novelty), dapat diterapkan dalam bidang industri
6. Lama pemeriksaan substantif 36 bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan substantif 24 bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan pemeriksaan substantif
7. Objek Paten Produk atau proses Produk atau alat

 

Invensi dapat diajukan sekaligus dalam sebuah permohonan paten

Dalam permohonan paten dapat diajukan satu invensi, atau beberapa invensi akan tetapi harus merupakan satu kesatuan invensi.

Sederhana! setiap invensi berupa produk atau alat yang baru dan mempunyai nilai kegunaan praktis disebabkan karena bentuk, konfigurasi, konstruksi atau komponennya dapat memperoleh perlindungan hukum dalam bentuk paten sederhana.

 

Perbedaan antara paten dan paten sederhana

Perbedaan antara paten dan paten sederhana adalah sebagai berikut:

Satu kesatuan invensi yang dimaksud adalah beberapa invensi yang memiliki keterkaitan antara satu invensi dengan incensi yang lain, misalnya suatu invensi berupa alat tulis yang baru beserta tinta yang baru. Alat tulis dan tinta tersebut merupakan satu kesatuan, karena tersebut khusus untuk digunakan pada alat tulis baru tersebut.

 

Invesi yang tidak dapat diberi paten

  1. Proses atau produk yang pengumuman dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, ketertiban umum atau kesusilaan.
  2. Metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan.
  3. Teori dan metode dibidang ilmu pengetahuan dan matematika, atau
  4. Semua mahkluk hidup, kecuali jasad renik.
  5. Proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau hewan kecuali proses non biologis atau proses mikrobiologis.

 

Cara mengetahui apakah permohonan paten yang sama dengan invensi seseorang telah diajukan.

Untuk mengetahui apakah permohonan paten untuk satu invensi sudah diajukan atau belum, dapat ditelursuri DJHKI atau lewat internet ke kantor-kantor paten luar negeri seperti United State Patent and Trademark Office, Japan Patent Office, European Patent Office dll.

 

Pengajuan Permohonan Paten

Suatu permohonan paten sebaiknya diajukan secepat mungkin, mengingat sistem paten Indonesia menganut sistem first-to-file. Akan tetapi pada saat pengajuan, uraian lengkap penemuan harus secara lengkap menguraikan/mengungkapkan penemuan tersebut.

Tahapan yang harus dilakukan seseorang inventor

Sebelum mengajukan permohonan paten, sebaiknya dilakukan tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Melakukan penelusuran, tahapan ini dimaksud untuk mendapatkan informasi tentang teknologi terdahulu dalam bidang invensi yang sama (state of the art) yang memungkinkan ada kaitannya dengan invensi yang akan diajukan. Melalui informasi teknologi terdahulu tersebut maka inventor dapat melihat perbedaan antara invensi yang akan diajukan permohonan patennya dengan teknologi terdahulu.
  2. Melakukan analisa, tahapan ini dimaksudkan untuk menganalisa apakah ada ciri khusus dari invensi yang akan diajukan permohonan patennya dibandingkan dengan invensi terdahulu.
  3. Mengambil keputusan, jika invensi yang dihasilkan tersebut mempunyai ciri teknis dibandingkan dengan teknologi terdahulu, maka invensi tersebut sebaiknya diajukan permohonan patennya. Sebaliknya jika tidak ditemukan ciri khusus, maka invensi tersebut sebaiknya tidak perlu diajukan untuk menghindari kerugian dari biaya pengajuan permohonan paten.

 

Tahapan permohonan Paten

  1. Pengajuan Permohonan
  2. Pemeriksaan administrasi
  3. Pengumuman permohonan paten
  4. Pemeriksaan substantif
  5. Pemberian atau Penolakan

 

Cara mengajukan permohonan paten

Mengajukan paten secara tertulis dalam bahasa indonesia, menggunakan formulir permohonan paten yang memuat:

  1. Tanggal, bulan, dan tahun permohonan
  2. Alamat lengkap, dan alamat jelas orang yang mengajukan permohonan paten,
  3. Nama lengkap dan alamat kuasa (apabila permohonan paten diajukan melalui kuasa)
  4. Surat kuasa khusus, dalam hal permohonan diajukan melalui kuasa.
  5. Pernyataan permohonan untuk dapat diberi paten
  6. Judul invensi
  7. Klaim yang terkandung dalam invensi
  8. Deskripsi tentang invensi, yang secara lengkap memuat keterangan tentang cara melaksanakan invensi,
  9. Gambar yang disebutkan dalam deskripsi yang diperlukan untuk memperjelas invensi (jika ada)
  10. Abstrak invensi

 

Cara penulisan deskripsi invensi

Deskripsi adalah uraian lengkap tentang invensi yang dimintakan paten. Penulisan deskripsi atau uraian invensi tersebut harus secara lengkap dan jelas mengungkapkan suatu invensi sehingga dapat dimengerti oleh seorang yang ahli dibidangnya.

Uraian invensi harus ditulis dalam bahasa indonesia yang baik dan benar. Semua kata atau kalimat dalam deskripsi harus menggunakan bahasa dan istilah yang lazim digunakan dalam bidang teknologi. Uraian invensi tersebut mencakup:

  1. Judul invensi, yaitu susunan kata-kata yang dipilih untuk menjadi topik invensi. Judul tersebut harus dapat menjiwai inti invensi.
  2. Bidang teknin invensi, yaitu menyatakan tentang bidang teknik yang berkaitan dengan invensi
  3. Latar belakang invensi yang mengungkapkan tentang invensi terdahulu beserta kelemahannya dan bagaimana cara mengatasi kelemahan tersebut yang merupakan tujuan dari invensi.
  4. Uraian singkat invensi yang menguraikan secara ringkas tentang fitur-fitur dari klaim mandiri.
  5. Uraian singkat gambar (bila ada) yang menjelaskan secara ringkas keadaan seluruh gambar yang disertakan.
  6. Uraian lengkap invensi yang mengungkapkan isi invensi sejelas-jelasnya terutama fitur yang terdapat pada invensi tersebut dan gambar yang disertakan digunakan untuk membantu memperjelas invensi.

 

Klaim

Klaim adalah bagian dari permohonan yang menggambarkan inti invensi yang diminta perlindungan hukum, yang harus diuraikan secara jelas dan harus didukung oleh deskripsi. Klaim tersebut mengungkapkan tentang semua keistimewaan teknik yang terdapat dalam invensi.

Penulisan klaim harus menggunakan kaidah bahasa indonesia dan lazimnya bahasa teknik yang baik dan benar serta ditulis secara terpisah dari uraian invensi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan klaim adalah :

  1. klaim tidak boleh berisi gambar atau grafik tetapi dapat berisi tabel, rumus matematika ataupun rumus kimia,
  2. klaim tidak boleh berisi kata-kata yang sifatnya meragukan.

dalam penulisannya, klaim dapat ditulis dalam dua cara;

  1. Klaim mandiri (independent claim) dapat ditulis dalam dua bagian, Bagian pertama, mengungkapkan tentang fitur invensi terdahulu dan bagian kedua mengungkapkan tentang fitur invensi yang diajukan. Dalam penulisannya, dimulai dari keistimewaan yang paling luas (broadest) lalu diikuti dengan keistimewaan yang lebih spesifik (narrower). Klaim turunan (dependent clain) mengungkapkan fitur yang lebih sepesifik dari pada keistimewaan pada klaim mandiri dan ditulis secara terpisah dari klaim mandirinya.
  2. Klaim mandiri dapat ditulis dalam satu bagian dan mengungkapkan secara langsung keistimewaan invensi tanpa menyebutkan keistimewaan dan invensi terdahulu, Cara penulisannya biasanya juga dimulai dari keistimewaan yang paling luas diikuti dengan keistimewaan yang lebih spesifik. Penulisan klaim turunannya, sama dengan penulisan pada cara pertama diatas.

 

Gambar

Gambar adalah teknik dari invensi yang menggambarkan secara jelas bagian-bagian dari invensi yang dimintakan perlindungan patennya. Gambar tersebut merupakan gambar teknik tanpa skala, dan jumlahnya dapat lebih dari satu.

Pada gambar invensi hanya diperbolehkan memuat tanda-tanda dengan huruf atau angka, tidak dengan tulisan kecuali dengan kata-kata yang sederhana. Gambar invensi dapat berupa diagram.

 

Abstrak

Abstrak adalah bagian dari spesifikasi paten yang akan disertakan dalam lembaran pengumuman, yang merupakan ringkasan uraian lengkap penemuan, yang ditulis secara terpisah dari uraian invensi. Abstrak tersebut ditulis tidak lebih dari 200 (dua ratus) kata, yang dimulai dengan judul invensi sesuai dengan judul yang ada pada deskripsi invensi.

Isi abstrak invensi merupakan intisari dari deskripsi dan klaim-klaim invensi, paling tidak sama dengan klaim mandiri. Rumus kimia atau matematika yang benar-benar diperlukan, dapat dimasukkan kedalam abstrak. Dalam abstrak, tidak boleh ada kata-kata diluar lingkup invensi, terdapat kata-kata sanjungan, reklame atau berbrsifat subyektifitas orang yang mengajukan permohonan paten.

Jika dalam abstrak menunjuk beberapa keterangan bagian-bagian dari gambar maka harus mencantumkan indikasi penomoran dari bagian gambar yang ditunjuk dan diberikan dalam tanda kurung. Disamping itu, jika diperlukan gambar secara penuhdisertakan dalam abstrak, maka gambar yang dimaksud harus dicantumkan nomor gambarnya.

 

Surat kuasa dan Penggunaannya

Surat kuasa adalah surat pemberian kuasa dari orang atau badan hukum yang mengajukan permohonan paten kepada konsultan KI, bila pengajuan permohonan paten dilakukan melalui konsultan. Surat kuasa tersebut harus ditandatangani oleh yang berhak atas invensi yang bersangkutan dan hanya dapat diberikan kepada konsultan KI yang terdaftar di DJHKI.

 

Persyaratan fisik dalam deskripsi, klaim dan abstrak serta gambar.

Disamping pesyaratan administratif , dokumen permohonan paten juga harus memenuhi persyaratan fisik. Berdasarkan keputusan menteri No.M.06.HC.02.01 Tahun 1991, tentang pelaksanaan pengajuan permintaan paten, persyaratan fisik mengenai penulisan deskripsi, klaim dan abstrak serta pembuatan gambar ditetapkan sebagai berikut:

  1. Dari setiap lembar kertas, hanya salah satu mukanya saja yang boleh dipergunakan untuk penulisan deskripsi, klaim dan abstrak, serta pembuatan gambar.
  2. Deskripsi, klaim dan abstrak diketik dalam lembaran kertas HVS yang terpisah dengan ukuran kertas A-4 (29,7 cm x 21cm) yang berat minimumnya 80 gram dan dengan jarak sebagai berikut:dari pinggir atas 2 cm (maksimal 4 cm); dari pinggir bawah 2 cm (maksimal 3 cm) dari pinggir kiri 2,5 cm (maksimal 4 cm);dari pinggir kanan 2cm (maksimal 3 cm)
  3. Kerta A-4 tersebut berwarna putih, tidak mengkilat dan pemakaiannya harus dilakukan dengan menempatkan sisi-sisinya yang pendek dibagian atas dan bawah;
  4. Setiap lembar diuraikan dan klaim diberi nomor urut menurut angka arab pada bagian tengan atas
  5. Di pinggir kiri dari pengetikan uraian invensi, klaim dan abstrak setiap lima barisnya harus diberi nomor baris yang disetiap halaman baru selalu dimulai dari awal;
  6. Pengetikan harus dilakukan dengan menggunakan tinta warna hitam, dengan jarak antar baris 1,5 spasi, dan ukuran tinggi huruf minimum 0,21 cm;
  7. Tanda-tanda dengan garis, rumus kia atau matematika dan tanda-tanda tersebut dapat ditulis dengan tangan.
  8. Gambar harus dibuat dengan tinta hitam pada kertas putih ukuran A-4 yang berat minimumnya 100 gram dan dengan jarak sebagai berikut:
    • dari pinggir atas 2,5 cm;
    • dari pinggir bawah 1 cm, dari pinggir kiri 2,5 cm;
    • dari pinggir kanan 1,5 cm
  9. Setiap istilah yang dipergunakan dalam deskripsi, klaim, abstrak dan gambar harus konsisten satu sama lain;
  10. Pengajuan permohonan paten harus dilakukan dalam rangkap 3 (tiga).

 

Pemeriksaan dan Pengumuman

Pemeriksaan administratif, tujuan dilakukannya pemeriksaan formal adalah untuk memeriksa kebenaran dan kelengkapan administratif dan fisik dari permohonan paten yang diajukan sebelum dilakukannya pengumuman permohonan paten. Jika semua kelengkapan atau syarat-syarat sebagaimana dimaksud pasa 30 UUP telah terpenuhi maka akan diberitahukan tanggal penerimaan permohonan paten (filling date).

Jika kelengkapan dari permohonan paten yang dilajukan belum terpenuhi maka pemohon yang bersangkutan harus memenuhinya dalam batas waktu yang ditetapkan oleh DJHKI. Jika ketidak lengkapan tidak dipenuhi hingga batas waktu yang ditetapkan maka permohonan paten yang diajukan dianggap ditarik kembali.

 

Tanggal pengajuan dan Tanggal penerimaan

Tanggal Pengajuan permohonan paten adalah tanggal saat diajukannya permohonan paten ke DJHKI, sedangkan yang dimaksud tanggal penerimaan permohonan paten adalah tanggal saat diterimanya seluruh persyaratan minimum oleh DJHKI sebagaimana diatur dalam pasal 30 UUP.

 

Pengumuman paten dilakukan

Pengumuman permohonan paten dilakukan setelah memenuhi seluruh ketentuan Pasal 24 UUP. Selanjutnya pengumuman atas:

  1. Permohonan paten, dilakukan segera setelah 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal penerimaan atau segera setelah 18 (delapan belas) bulan sejak tanggal prioritas apabila pemohon diajukan dengan hak prioritas;
  2. Permohonan paten sederhana, dilakukan setelah 3 (tiga) bulan sejak tanggal penerimaan.

 

Waktu pihak ketiga mengajukan keberatan

Pengumuman permohonan paten berlangsung selama 6 (enam) bulan untuk permohonan paten, dan selama 3 (tiga) bulan untuk permohonan paten sederhana, dan dapat dilihat pada :

  1. Berita Resmi Paten (BRP) yang diterbitkan secara berkala oleh DJHKI,
  2. Sarana khusus yang disediakan oleh DJHKI yang dengan mudah serta jelas dapat dilihat oleh masyarakat

 

Isi dalam pengumuman permohonan paten

yang tercantum dalam pengumuman permohonan paten adalah :

  1. Nama dan kewarganegaraan inventor;
  2. Nama dan alamat lengkap pemohon dan kuasa apabila permohonan diajukan melalui kuasa;
  3. Judul invensi
  4. Tanggal penerimaan, dalam hal permohonan diajukan dengan hak prioritas, tanggal prioritas, nomor, dan negara tempat pertama kali diajukan;
  5. Abstrak
  6. Klasifikasi invensi;
  7. Gambar invensi jika ada;
  8. Nomor pengumuman;
  9. Nomor permohonan.

 

Tujuan Pengumuman Permohonan Paten

  1. untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa suatu permohonan paten telah diajukan sehingga diharapkan tidak ada pihak lain yang akan melakukan peniruan atau tindak pelanggaran terhadapnya;
  2. untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anggota masyaratak yang berkepentingan untuk melihat permohonan paten yang diumumkan.

Selama jangka waktu pengajuan keberatan, setiap orang dapat mengajukan pandangan dan/atau keberatan secara tertulis  atas permohonan paten yang bersangkutan dengan menyerahkan alasannya ke DJHKI.

Jika ada yang mengajukan keberatan atas suatu invensi yang dimintakan paten maka, DJHKI segera mengirimkan salinan surat yang berisikan pandang dan/atau keberatan tersebut kepada pemohon. Pemohon berhak mengajukan secara tertulis sanggahan dan penjelasan terhadap pandangan dan/atau keberatan tersebut kepada DJHKI, dan sekaligus dengan adanya keberatan tersebut akan menjadi pertimbangan dalam tahap pemeriksaan substantif.

 

Cara mengajukan permohonan pemeriksaan substantif

untuk permohonan paten:

Pengajuan permohonan pemeriksaan substantif dilakukan secara tertulis oleh pemohon paten atau konsultan KI yang ditunjuk dengan mengisi formulir yang disediakan oleh DJHKI.

Pengajuan permohonan pemeriksaan substanti diajukan paling lama 36 (tiga puluh enak) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan paten.

untuk paten sederhana:

Permohonan pemeriksaan substantif atas paten sederhana dapat dilakukan bersamaan dengan pengajuan permohonan atau paling lama 6 (enak) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan paten sederhana.

 

Permohonan pemeriksaan substantif tidak diajukan

Apabila permohonan pemeriksaan substantif tidak dilakukan hingga batas waktu yang ditentukan, atau biaya untuk itu tidak dibayar, permohonan paten tersebut dianggap ditarik kembali.

 

Tahapan pemeriksaan substantif

  1. Kejelasan invansi, apabila setelah dilakukan pemeriksaan invansi yang diajukan permohonan patennya mengandung ketidakjelasan atau kekurangan lain yang dianggap penting maka pemohon paten akan diberitahhu oleh DJHKI secara lisan atau tertulis, agar ketidakjelasan tersebut diperbaiki dan kekurangannya agar dilengkapi. Perbaikan atas ketidakjelasan dimaksud tidak boleh memperluas lingku invensi semula;
  2. Kebaruan dari invensi, perbedaan seara teknik yang dihasilkan oleh invensi yang dimohonkan paten apabila dibandingkan dengan invensi terdahulu atau yang telah ada sebelumnya. Dalam menentukan kebaruan suatu invensi yang dimohonkan paten, pemeriksaan paten akan membandingkan invensi yang diajukan dengan teknologi yang sudah ada sebelum tanggal penerimaan permohonan paten. Adapun dokumentasi pembanding yang digunakan dapat berupa dokumentasi yang tertulis antara lain; dokumentasu paten, majalah, dan karya ilmiah lainnya. Sedangkan yang tidak tertulis dapat berupa siaran radio televisi dan lain sebagainya.
  3. Keterterapan invensi dalam industri, yaitu invensi yang dihasilkan harus dapat diterapkan dalam industri atau dapat diproduksi atau digunakan dalam berbagai jenis industri sesuai dengan karakteristiknya.
  4. Apakah invensi yang bersangkutan termasuk didalam kelompok invensi yang tidak dapat diberi paten sebagaimana yang diatur dalam pasal 7 UUP.

 

Ketentuan Pidana :

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten

Pasal 130

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,- (Lima ratus juta).

Pasal 131

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten sederhana dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.250.000.00,- (Dua ratus lima puluh juta rupiah)